Kiss FM Medan – Musim panas di Jepang identik dengan suara tonggeret dan jangkrik yang memenuhi taman-taman kota. Namun tahun ini, suasana tersebut terasa berbeda. Di beberapa taman di Tokyo, seperti Sarue Onshi, jumlah larva serangga menurun drastis — dan penyebabnya cukup mengejutkan.

Larva-larva serangga seperti tonggeret dan jangkrik diduga diambil oleh sejumlah imigran, khususnya asal Tiongkok, untuk dikonsumsi. Aktivitas ini biasanya terjadi pada malam hingga subuh, di saat taman sepi. Fenomena ini bukan hanya berdampak pada populasi serangga, tetapi juga mengganggu tradisi dan kenangan musim panas khas Jepang.

Pihak keamanan taman mencatat peningkatan kasus ini sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, pada musim panas sebelumnya, sejumlah imigran tertangkap tangan tengah mengumpulkan larva serangga. Saat ditegur, beberapa dari mereka berdalih tidak memahami larangan tersebut dan mempertanyakan kenapa tidak boleh diambil.

Sebagai tanggapan, lebih dari 30 papan larangan dipasang di berbagai taman dengan bahasa Jepang, Mandarin, Korea, hingga Inggris. Taman-taman lain seperti Sugi Nami dan Arakawa juga telah memasang tanda serupa untuk mencegah kegiatan tersebut terulang.

Pemerintah lokal berharap larangan ini bisa menjaga keberlangsungan ekosistem dan mempertahankan budaya musim panas Jepang, terutama bagi anak-anak yang tumbuh dengan kenangan mendengarkan suara tonggeret sebagai bagian dari masa kecil mereka.

Isu ini mengingatkan kita akan pentingnya menghormati alam dan budaya lokal, apalagi saat tinggal atau berkunjung ke negara lain. Konsumsi serangga boleh jadi lazim di beberapa tempat, namun ekosistem tetap harus dijaga agar tradisi dan lingkungan tetap lestari.