Kiss FM Medan – 11 Februari jadi hari yang tak terlupakan bagi baladewa di Medan dalam merayakan 30 tahun berkarirnya band asal surabaya ini. Dengan membawa format 4 vokalis yaitu Ari Lasso, Once Mekhel, Virzha, dan Marcello Tahitoe, Dewa 19 membuka penampilan malam itu dengan lagu “Restoe Bumi” yang dinyanyikan Virzha dan Ello, sebelum membawakan kurang lebih 32 lagu berikutnya.

Penonton mulai histeris ketika Dhani mengambil posisi frontman dan menyanyikan lagu “Cinta Gila”. Rolling vokalis dimulai dengan Ello dan berhasil menaikkan semangat crowd dengan membawa dua nomor “Takkan ada cinta yang lain” dan menutup setnya dengan lagu “Sudah”. Twist yang diberikan juga membuat lagu ini lebih fun didengarkan dengan permainan hi hat ala musik trap membuat fans mulai asik dan luwes menggoyangkan badannya.

Akhirnya giliran Virzha untuk naik panggung, sang vokalis ini membawakan beberapa nomor hits Dewa seperti “Cukup Siti Nurbaya” dan “Lagu Cinta” yang berhasil membuat suara di dalam gedung Pardede Hall semakin menjadi. Vokalis yang berbeda dari versi orisinilnya tidak menurunkan semangat penonton untuk menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan.

Hadapi Dengan Senyuman” dengan versi akustik yang dibawakan Dhani dan Virzha membuat lagu ini terasa lebih menghanyutkan, dengan lighting yang hanya fokus pada Dhani dan Virzha berhasil memberikan intimasi yang selayaknya dihadirkan pada lagu yang disebut Dhani sebagai lagu untuk Ibu Negara Indonesia yang juga hadir di konser ini. Virzha menutup setnya dengan lagu “Angin” yang akhirnya menguras energi penonton untuk berlompat sebelum akhirnya mencapai break yang dipandu dengan The 19th Horns.

Setelah break, crowd mulai memanggil nama Once ketika countdown sebelum Dewa 19 memulai setnya. Kedatangan Once membuat para baladewa dari segala generasi histeris dengan lagu “Roman Picisan” yang selalu menjadi nomor yang paling ditunggu ketika Dewa 19 bermain. Selama Once bermain, penonton dimanjakan dengan nomor-nomor hits dewa seperti “Dua Sejoli”, “Risalah Hati” dan “Pupus” yang membuat pita suara penonton seakan tidak diberikan istirahat untuk menyanyikan lagu Dewa era Once. Layaknya spanduk yang diturunkan oleh Baladewa yang ada di tribun atas bertuliskan “No Once No Party”.

Setelah Dhani menyanyikan lagu yang membuat seisi venue bergoyang dengan “Sedang ingin bercinta”. Dalam konser ini turut hadir RI 1, Ahmad Dhani memakai kesempatan ini untuk memberi speech mengenai royalti musiknya, dan mengumumkan bahwa dia akan membuat cyber army yang akan melaporkan siapapun musisi yang membawakan lagu dewa tanpa izin lewat media sosial. Sebuah pidato yang saya rasa sedikit berlebihan namun akan terasa lebih bisa diterima jika pidato ini ditutup dengan lagu “Aspirasi Putih”, tapi sayangnya tidak.

Cemburu” dan “Arjuna” jadi lagu yang berhasil membuat venue menggema kembali dengan suara nyanyian baladewa dan menjadi penutup dari set Once yang merupakan Set paling energik selama pertunjukan, namun sayangnya lagu yang sangat danceable ini tidak memancarkan euforia yang seharusnya ketika semua penonton kebanyakan mengabadikan pertunjukan menggunakan handphone mereka.

Kebalikan dari Once dalam membuka setnya, giliran Ari Lasso seketika membuat venue terasa adem dengan membawakan lagu “Cinta ‘kan membawamu Kembali”, ditambah dengan solo piano Dhani dibawah lighting panggung yang redup dan berganti warna dari warna biru menjadi warna merah berhasil menghipnotis para penonton melihat kelihaian jarinya diatas keyboard.

Aku Milikmu” menjadi satu lagu yang dibawakan cukup unik. Dengan aransemen orisinilnya dikombinasikan oleh aransemen baru yang sarat akan suara synth ketika ditengah lagu, mengingatkan kita betapa timeless-nya lagu-lagu Dewa 19 ini.

Dhani juga menunjukkan skillnya sebagai pianist dan keyboardist handal di lagu yang diambil dari album “Pandawa Lima” yaitu “Aku Disini Untukmu”, sebuah solo synth yang kembali membuat penonton terpelongo melihat permainannya.

Ari Lasso mengenang salah satu personil original Dewa yang lebih dahulu meninggalkan mereka, yaitu Erwin Prasetya sebelum membawakan lagu yang ditulis oleh alm. Erwin dan Ahmad Dhani. “Mari kita doakan semoga beliau diberikan tempat terbaik disana” ujar Lasso sebelum mulai menyanyikan lagu “Kirana”.

Kangen” menjadi sorotan ketika Lasso mengajak semua penonton menghidupkan flash handphone ketika lighting panggung redup dan menambahkan kesan sakral pada lagu ini, “Terima kasih untuk 30 tahun yang indah ini” ujar Lasso sebelum akhirnya mulai menyanyikan anthem rasa rindu para baladewa. Disela-sela lagu “Kangen”, Dhani bilang kalau dia berharap di Medan bisa ada stadion seperti JIS untuk menggelar konser. Mengingat kapasitas Pardede Hall yang hanya dapat menampung kurang lebih 6000 orang, seakan tidak bisa memberikan kemegahan yang sepadan untuk perayaan 30 tahun Dewa 19 berkarir.

“Terima kasih untuk 30 tahun yang indah ini”

Ari Lasso

Penonton kembali diajak melompat dengan “Kamulah Satu-Satunya”, ditambah dengan permainan brass section, lagu ini berhasil menjadi puncak dari malam itu, sebelum ditutup dengan berkumpulnya 4 vokalis untuk bertukar energi dengan penonton diatas panggung membawakan lagu “Separuh Nafas”.

Konser perayaan 30 tahun berkarirnya dewa ini dalam kesimpulannya memberikan setlist yang cukup adil dan fresh dalam beberapa nomornya, produksi panggung yang oke, dan kualitas sound yang cukup baik walau ada beberapa kali terjadi kesalahan minor dalam sound seperti ada suara noise yang tiba-tiba mengagetkan penonton. Juga sangat disayangkan kapasitas venue yang terlalu sedikit dan kecil untuk ukuran band sekelas Dewa 19, mengingat sangat banyak orang yang tidak kebagian tiket.

Akses menuju venue yang jalannya juga cukup kecil dan kesulitan dalam mencari parkir bisa menjadi catatan dalam pagelaran konser ini. At the end of the day konser ini dapat dibilang memuaskan para baladewa yang datang namun tak semegah dan se-“Dewa” yang dibayangkan untuk merayakan 30 tahun berkarirnya Dewa 19.