Kiss FM Medan – Di tengah dunia film aksi yang menuntut stamina tinggi dan keberanian ekstrem, dua nama besar muncul dengan pendekatan berbeda: Tom Hardy dan Tom Cruise.
Tom Hardy, yang dikenal lewat peran-perannya yang intens seperti di Venom dan Warrior, mulai menyadari bahwa tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Dalam wawancara terbaru, ia menyebut fisiknya sudah mulai “ringkih.” Hardy kini lebih selektif dalam memilih peran, dan tidak segan mengakui bahwa ada masa di mana harus memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat.
Di sisi lain, Tom Cruise justru semakin gila-gilaan. Di usia 61 tahun, ia tetap melakukan aksi-aksi berbahaya sendiri—tanpa stuntman. Dalam Mission: Impossible – Dead Reckoning, ia terlihat melompat dari tebing dengan motor, seolah tak terpengaruh usia. Cruise menyatakan bahwa ia ingin terus bermain dalam film aksi “selama tubuhnya masih mampu.”
Apa yang kita lihat di sini bukan sekadar perbedaan gaya hidup, tapi juga filosofi. Hardy terlihat nyaman menerima proses penuaan dan memilih langkah yang lebih bijak. Cruise, dengan energi tak habis-habis, menunjukkan bahwa batas usia bisa diabaikan selama hasrat masih menyala.
Keduanya sah dan valid. Hardy mewakili kita yang belajar berkata cukup dan memelihara diri. Cruise mewakili sisi kita yang masih ingin berlari, melompat, dan membuktikan sesuatu—bahkan pada diri sendiri.
Dunia berubah, tubuh menua. Tapi passion? Selama ia tulus, ia tetap hidup—entah dalam keheningan, atau dalam lompatan gila dari atas tebing.












