Kiss FM Medan – Menjelang gelaran Piala Dunia 2026, muncul isu besar dari Eropa. Pemerintah Spanyol memberi sinyal kuat bahwa tim nasional mereka bisa saja mundur dari turnamen jika Israel lolos dan tetap diizinkan tampil.
Pernyataan ini datang langsung dari Perdana Menteri Pedro Sanchez. Ia menilai, Israel seharusnya mendapat perlakuan yang sama seperti Rusia, yang dilarang mengikuti kompetisi UEFA maupun FIFA usai invasi ke Ukraina pada 2022. Menurut Sanchez, tindakan Israel di Gaza seharusnya cukup menjadi alasan untuk mengecualikannya dari panggung olahraga internasional.
Dukungan senada juga datang dari Patxi Lopez, juru bicara Partai Sosialis Spanyol. Ia menyebut pemerintah perlu mempertimbangkan langkah tegas, termasuk menarik partisipasi Spanyol, apabila FIFA tetap membuka jalan bagi Israel ke Piala Dunia.
Secara matematis, peluang Israel untuk lolos masih terbuka. Saat ini mereka berada di peringkat 3 grup kualifikasi, posisi yang memberi kesempatan untuk masuk ke jalur play-off. Dengan situasi ini, potensi kehadiran Israel di turnamen utama semakin nyata.
Isyarat dari Spanyol ini sontak memicu diskusi global. Di satu sisi, ada yang menilai olahraga harus netral dan tidak dicampuri politik. Namun, banyak juga yang berpandangan bahwa kompetisi sebesar Piala Dunia tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral dan kemanusiaan.
Jika Spanyol benar-benar menarik diri, dampaknya akan sangat besar. Selain mengurangi daya tarik kompetisi, langkah tersebut bisa membuka jalan bagi negara lain untuk mengambil sikap serupa. Pada akhirnya, tekanan politik terhadap FIFA untuk mengambil keputusan tegas terhadap Israel pun semakin menguat.
Piala Dunia 2026 kini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang bagaimana dunia memandang hubungan antara olahraga, politik, dan kemanusiaan.












