Kiss FM Medan – Greta Thunberg kembali menjadi sorotan dunia setelah memutuskan untuk ikut serta dalam misi kemanusiaan ke Gaza. Pada Minggu (31/8), aktivis lingkungan asal Swedia itu berangkat dari Barcelona bersama ratusan relawan dalam sebuah misi bernama Global Sumud Flotilla.

Flotilla ini terdiri dari lebih dari 20 kapal dari 44 negara, membawa makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya untuk masyarakat Gaza. Dari Genoa, Italia, dilaporkan bahwa sudah terkumpul sekitar 250 ton bantuan yang berasal dari kelompok lokal maupun warga. Ribuan orang berkumpul di pelabuhan Barcelona untuk melepas keberangkatan mereka, melambaikan bendera Palestina sambil meneriakkan slogan “Free Palestine” dan “It’s not a war, it’s a genocide.”

Ini bukan kali pertama Greta mencoba berlayar ke Gaza. Pada Juni lalu, upaya serupa sempat dilakukan lewat kapal kecil bernama Madleen, namun dicegat oleh angkatan laut Israel. Seluruh aktivis, termasuk Greta, akhirnya dideportasi. Pengalaman itu rupanya tidak membuatnya mundur. Greta menegaskan bahwa perjuangan ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang hak dasar rakyat Palestina yang dengan sengaja dihalangi untuk menerima bantuan.

Pemerintah Israel menyebut flotila ini sebagai aksi provokasi dan bahkan sempat menuduh peserta memiliki kaitan dengan “terorisme.” Meski begitu, dukungan internasional terhadap misi ini semakin besar, menjadikannya salah satu aksi solidaritas terbesar dalam sejarah dukungan untuk Palestina.

Diperkirakan armada bantuan ini akan tiba di Gaza pertengahan September. Pertanyaan besar kini muncul: apakah mereka akan berhasil menembus blokade Israel, atau sekali lagi akan dihentikan di tengah jalan? Apa pun hasilnya, keberanian Greta dan ratusan aktivis lainnya sudah meninggalkan jejak penting dalam perjuangan kemanusiaan global.