Kiss FM Medan – Senin dini hari waktu Gaza, kapal Madleen yang membawa 12 aktivis pro-kemanusiaan, termasuk Greta Thunberg, dicegat oleh militer Israel saat mencoba menembus blokade laut untuk mengirimkan bantuan ke Gaza. Kapal tersebut merupakan bagian dari Freedom Flotilla, inisiatif internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan langsung ke wilayah yang saat ini tengah mengalami krisis.

Sempat muncul kabar bahwa kapal tersebut “hilang kontak”, memicu kekhawatiran global. Namun kemudian dikonfirmasi bahwa seluruh kru aman dan saat ini tengah diproses untuk dideportasi dari pelabuhan Ashdod. Pihak Israel menyebut langkah mereka sebagai “pengamanan terhadap pelanggaran wilayah maritim”, sementara pihak Freedom Flotilla menyebutnya sebagai “penculikan di perairan internasional”.

Greta Thunberg, yang selama ini dikenal lewat aktivismenya di bidang lingkungan, memperluas jangkauan perjuangannya ke isu kemanusiaan dan politik global. Aksinya ini menuai dukungan luas, namun juga kritik dari pihak-pihak yang menilai langkah itu provokatif.

Aksi ini bukan hanya soal bantuan fisik—tapi pesan kuat untuk dunia bahwa solidaritas bisa datang dari mana saja. Apapun posisi politik kita, peristiwa ini sekali lagi membuka mata bahwa konflik Gaza bukan hanya tentang batas wilayah, tapi tentang nasib manusia yang setiap harinya terjepit kekerasan dan blokade.

Meskipun kapal mereka dicegat, suara mereka telah sampai ke dunia. Dan mungkin, itu yang paling penting.