Kiss FM Medan – Wali Kota Medan, Rico Waas, ternyata punya kenangan panjang yang bikin ia selalu merasa dekat dengan kota kelahirannya. Dalam obrolan santai, ia menceritakan masa kecil dan remajanya yang penuh warna. Mulai dari naik angkot pertama kali di kelas 6 SD, nongkrong bareng teman-teman di depan sekolah, sampai pengalaman sederhana saat jalan-jalan ke mall legendaris.

Bagi Rico, tempat-tempat seperti Deli Plaza, Thamrin Plaza, Medan Plaza, hingga Menara Plaza punya makna tersendiri. Meski waktu itu uang saku terbatas, tapi suasana kebersamaan dan keriangan masa sekolah jadi hal yang tak tergantikan. “Serunya justru di situ. Nggak banyak pilihan hiburan, tapi kita bisa bikin momen yang memorable,” kenangnya.

 Merantau ke Jakarta dan Dunia Kreatif

Setelah lulus SMA, Rico sempat merantau ke Jakarta selama 10 tahun. Ia menekuni dunia desain dan bertemu langsung dengan ekosistem kreatif yang berkembang pesat di ibu kota. Dari komunitas musik indie, dunia seni rupa, hingga industri fashion, semua terasa hidup dan membuka banyak peluang.

“Di Jakarta, saya lihat anak muda bisa berani berkarya karena pasarnya jelas. Band indie bisa bikin label sendiri, desainer bisa tumbuh dengan cepat, bahkan seniman bisa hidup dari karya mereka,” ujarnya. Pengalaman itu membekas kuat dan jadi modal berpikirnya ketika akhirnya memutuskan pulang ke Medan.

Pulang untuk Medan

Kembali ke Medan bukan sekadar karena rindu kampung halaman. Rico menyebut, ada rasa kekeluargaan yang selalu melekat di Medan, sesuatu yang berbeda dibandingkan kota besar lain. Namun, di balik rasa hangat itu, ia juga melihat peluang besar untuk membangun sesuatu yang lebih: ekosistem ekonomi kreatif.

Menurut Rico, Medan punya sumber daya manusia yang tidak kalah berbakat dibanding kota lain. Banyak musisi, desainer, dan seniman yang lahir di Medan. Sayangnya, pasar kreatif di kota ini masih belum sebesar di Jakarta, Bandung, atau Jogja. Inilah yang ingin ia dorong lewat kebijakan pemerintah.

Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru

Rico percaya bahwa ekonomi kreatif bisa jadi mesin pertumbuhan baru bagi Medan. Ia mencontoh Bandung yang dikenal dengan fashion, Jogja dengan seni, atau Jawa Tengah dengan musik koplo yang kini mendunia. “Kalau market di Medan bisa terbentuk, otomatis pelaku kreatif bisa hidup dari karya tanpa harus hijrah ke luar kota,” jelasnya.

Keragaman etnis di Sumatera Utara—Batak, Karo, Nias, Tionghoa, India, dan lain-lain—juga dianggapnya sebagai kekuatan yang bisa melahirkan karya unik. Musik, film, dan seni rupa dari Medan punya potensi besar untuk tampil di kancah nasional bahkan internasional.

 Visi untuk Anak Muda Medan

Sebagai Wali Kota, Rico ingin menyediakan ruang inkubator untuk berbagai bidang kreatif. Mulai dari musik, film, desain grafis, hingga seni pertunjukan. Ia percaya, dengan dukungan pemerintah dan komunitas, anak muda Medan bisa berkarya lebih luas.

“Yang penting aspirasi anak muda harus didengar. Supaya kebijakan yang dibuat relevan dengan kebutuhan mereka,” tegasnya.

Rico menambahkan, visi besarnya adalah menjadikan Medan bukan hanya kota yang nyaman untuk ditinggali, tapi juga panggung besar untuk anak muda tumbuh dan berkarya. Dengan

semangat itu, ia berharap tak ada lagi alasan bagi talenta Medan untuk merasa harus pindah ke kota lain demi berkembang.