Kiss FM Medan – Konsumen di Amerika Serikat kini ramai-ramai berbelanja langsung dari platform grosir online China seperti DHgate, Taobao, dan Shein. Langkah ini diambil untuk menghindari tarif impor yang tinggi, terutama setelah Presiden Donald Trump menetapkan tarif sebesar 145% untuk barang-barang dari grosir online China. Kebijakan ini juga mencabut aturan “de minimis” yang sebelumnya membebaskan pajak untuk barang impor di bawah $800, efektif mulai 2 Mei 2025.

Tren ini semakin populer berkat video viral di TikTok yang menunjukkan bahwa banyak merek ternama dunia sebenarnya diproduksi di China. Video-video tersebut menampilkan produsen yang mengklaim memproduksi barang untuk merek-merek terkenal, menawarkan produk serupa tanpa label dengan harga jauh lebih murah. Hal ini mendorong konsumen untuk membeli langsung dari sumbernya melalui platform seperti DHgate, yang kini menjadi salah satu aplikasi paling banyak diunduh di App Store AS.

Menanggapi lonjakan minat ini, DHgate meluncurkan program “Tariff Escort Plan” untuk mendukung pedagang dengan subsidi, logistik, dan distribusi . Namun, konsumen diingatkan untuk berhati-hati terhadap risiko barang palsu dan kualitas yang tidak konsisten. Beberapa merek besar seperti Lululemon dan Adidas telah membantah keterlibatan dengan produsen yang disebutkan dalam video TikTok tersebut dan memperingatkan konsumen tentang potensi produk palsu.

Meskipun demikian, tren belanja langsung dari grosir online China ini menunjukkan perubahan perilaku konsumen AS dalam mencari alternatif yang lebih terjangkau di tengah ketidakpastian ekonomi dan kebijakan perdagangan yang ketat.