Kiss FM Medan — Dalam beberapa minggu terakhir, statistik kelahiran di Thailand jadi bahan perbincangan global. Menurut data yang beredar, pada Januari 2026 angka kelahiran mencapai 31.395 bayi, turun sekitar 14,8% dibanding Januari 2025 — tren penurunan yang cukup tajam. Berdasarkan tren ini, TFR Thailand diperkirakan bisa turun di bawah 0,8 anak per perempuan tahun ini, angka yang sangat rendah bahkan jika dibandingkan dengan Korea Selatan yang sudah terkenal sebagai negara dengan fertilitas rendah.
Penurunan angka kelahiran di Thailand bukan fenomena baru. Data lain menunjukkan total fertilitas Thailand beberapa tahun terakhir memang terus turun, dan negara ini pernah mencatat TFR sekitar 1,0, lebih rendah dari Jepang. Fenomena ini mencerminkan masalah struktural: biaya hidup tinggi, perubahan gaya hidup, dan prioritas generasi muda yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Sementara itu, Indonesia juga mengalami penurunan angka kelahiran dalam jangka panjang. Hasil sensus menunjukkan bahwa angka kelahiran total di Indonesia turun dari sekitar 5,61 anak per perempuan pada awal 1970-an menjadi sekitar 2,18 pada sensus terbaru, mendekati level replacement (sekitar 2,1) yang dianggap cukup untuk menjaga stabilitas jumlah penduduk.
Penurunan angka kelahiran di kedua negara terjadi karena faktor sosial ekonomi yang kompleks, termasuk peningkatan pendidikan, perubahan pandangan tentang keluarga, hingga pertimbangan biaya hidup dan karier. Meski tren di Thailand lebih ekstrem, Indonesia juga menunjukkan pola yang sama namun dengan laju yang lebih bertahap.
Tren global menunjukkan banyak negara di Asia dan dunia menghadapi penurunan fertilitas, yang menimbulkan tantangan panjang pada struktur demografi dan pembangunan ekonomi.














