Kiss FM Medan — Dirilisnya memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans langsung menyita perhatian publik. Buku tersebut tak hanya ramai dibicarakan pembaca, tetapi juga menarik minat sejumlah production house yang disebut tengah “mengejar” untuk diadaptasi menjadi film atau series.
Kabar ini terungkap langsung dari unggahan Aurelie di media sosial. Ia mengaku terkejut karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, begitu banyak production house datang di waktu yang bersamaan.
Aurelie Moeremans Akui “Cemburu” pada Bukunya Sendiri
Dalam unggahannya, Aurelie menuliskan bahwa ada beberapa production house yang tertarik, bahkan salah satunya sama sekali tidak ia sangka sebelumnya. Namun, ia belum bisa mengungkap detail lebih lanjut karena takut “jinx”.
Catatan:
“Jinx” itu istilah slang yang maknanya kira-kira kesialan yang “kepanggil” gara-gara omongan atau kejadian tertentu.
Penjelasan gampangnya gini:
- Jinx = sesuatu yang dipercaya bikin sial
- Biasanya dipakai saat ngomong hal baik terlalu cepat, lalu malah kejadian sebaliknya
Menariknya, Aurelie menyebut bahwa ketertarikan para production house tersebut bukan ditujukan padanya secara personal, melainkan pada bukunya, Broken Strings. Pernyataan ini sontak memancing reaksi warganet, yang ikut antusias membayangkan kisah dalam buku tersebut hadir dalam format visual.
Netizen Harap Broken Strings Diadaptasi dengan Perspektif Perempuan
Spekulasi pun berkembang di kolom komentar. Banyak netizen berharap Broken Strings diadaptasi dengan pendekatan yang sensitif dan jujur, bahkan menyarankan agar kursi sutradara diisi oleh sutradara perempuan demi menjaga sudut pandang cerita.
Meski belum ada pengumuman resmi terkait production house maupun format adaptasi yang akan dipilih, antusiasme publik menunjukkan bahwa Broken Strings berpotensi menjadi salah satu karya adaptasi yang paling dinantikan.













