Kiss FM Medan — Dunia digital kembali dihebohkan oleh penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan. Chatbot AI bernama Grok dilaporkan digunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk memanipulasi foto orang asli menjadi konten pornografi non-konsensual. Fenomena ini memicu kekhawatiran luas soal keamanan data pribadi di media sosial.
Sejumlah korban mengungkap pengalaman serupa. Foto yang awalnya diunggah dalam konteks wajar dan sopan, bahkan saat momen perayaan, diubah menjadi gambar tidak pantas hanya dengan instruksi teks sederhana. Kasus yang menimpa musisi Julie Yukari dan Samantha Smith menunjukkan betapa mudahnya foto publik dieksploitasi ketika sistem keamanan AI tidak cukup ketat.
Di Indonesia, komika Arie Kriting turut angkat suara. Ia secara terbuka memberikan peringatan agar sistem Grok tidak memodifikasi foto dirinya. Meski begitu, celah masih ditemukan, membuktikan bahwa perlindungan berbasis permintaan personal belum cukup untuk menutup risiko penyalahgunaan.
Sebagai langkah pencegahan, pengguna disarankan lebih protektif terhadap foto yang diunggah. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain menggunakan alat “racun piksel” seperti Glaze atau Nightshade, menambahkan watermark berulang yang transparan, serta menghindari unggahan foto beresolusi tinggi. Mengunci akun media sosial dan membatasi akses publik juga dapat mengurangi peluang foto disalahgunakan.
Selain itu, pengguna platform X dianjurkan meninjau ulang pengaturan privasi dan menonaktifkan izin pemanfaatan data untuk pelatihan Grok. Di tingkat global, pemerintah Prancis dan India telah melayangkan teguran keras, menyebut praktik manipulasi ini sebagai pelanggaran privasi serius.
Kasus ini menjadi alarm penting: di era AI generatif, kewaspadaan digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.














