Kiss FM Medan – Lima tahun sudah berlalu sejak terakhir kali Danilla mengeluarkan karyanya dalam format full album bertajuk “Lintasan Waktu”. Kembali menggaet Lafa Pratomo dalam kursi produser Danilla Riyadi juga duduk disamping Otta Tarrega sebagai main producer dalam album bertajuk “Pop Seblay” ini.

Kata “Seblay” yang terkesan nyeleneh ini terinspirasi dari ucapan seniman Fluxcup didalam beberapa video youtubenya, dimana Danilla juga menjalin hubungan pertemanan yang erat dengan fluxcup, dilihat dari salah satu video youtubenya. Danilla juga menjadikan kisah dirinya dan kisah-kisah pertemanan yang terjadi di lingkaran paling dalamnya sebagai tema besar dari album “Pop Seblay” ini.

Seperti dikutip dari pophariini.com, Danilla menyampaikan “POP SEBLAY itu sebetulnya album yang jadi karena satu alasan: kangen sama anak-anak. Terus karena aku kangen, ingin banget di lagu-lagu ini yang kerjakan anak-anak saja.”. Benar ajanih, Danilla juga ngajakin teman-teman pengiringnya ketika mentas. Mulai dari Rendi James (gitar), Gallang Perdhana (bas), Edward Manurung (drum), juga Otta (kibor) dan Lafa (gitar) turut mensukseskan album ini.

Beberapa musisi dan sosok lain kolaborator di album ini antara lain ada Sigit Pramudita (Tigapagi), Teddy Adhitya, sampai Bobby Mandel dari Podcast BKR dan Fluxcup sendiri juga turut ambil bagian di beberapa track, menjadi alasan bahwa album Danilla terbaru ini merupakan briliansi musik yang wajib diantisipasi di awal tahun ini. Karena itu, “POP SEBLAY” akan menjadi album yang direview track-by-tracknya di artikel ini.

Kudikan

Dibuka dengan monolog khas ala Fluxcup, lagu ini menjadi pembuka album yang kaya akan karakter. Setelah monolog, alunan suara haunting danilla diikuti dengan musik yang seakan membawa kita ke perjalanan yang akan memperkenalkan kita kembali kepada keabsurdan danilla di dunia nyata namun tidak main-main dalam mengemas musiknya. Dengan mengkombinasikan alunan musik ala dangdut di satu menit terakhir Danilla berdendang di atas musiknya dibantu dengan kembalinya sajak absurd Fluxcup untuk menutup track ini. Walau terkesan terlalu menabrakkan banyak nuansa di track ini, namun track ini bisa dibilang menjadi track yang sangat percaya diri dari Danilla, which is absolutely right in Danilla’s capacity.

MPV

Dibuka dengan susunan nada yang mengingatkan kepada soundtrack Samurai X dan diatasnya danilla kembali dengan kesan playful-nya, memperkenalkan diri dan presenting the song dengan kata “hadeh” seakan akan menyesal membukanya dengan kata-kata yang “sok” serius. Dengan alunan musik mellow, Danilla bercerita soal kelelahan dirinya mengenai fansnya yang ingin Danilla bermusik dengan gaya album pertamanya, Telisik. Danilla dengan kejujurannya secara lirikal dibantu dengan alunan musik yang terkesan menusuk secara perlahan, berhasil meruntuhkan dinding-dinding yang menghambatnya untuk berkembang, dilengkapi dengan pesan untuk para fansnya diakhir lagu.

Bukan Otomata

Apa yang kita harapkan ketika Danilla dipadukan dengan gitar akustik? Yap benar, track lainnya yang sederhana dan mampu untuk membuat kaki kita enggan untuk menyentuh tanah. Dibantu oleh Sigit Pramudita dari Tigapagi, track ini diawali dengan pertanyaan makhluk siapa yang paling paripurna di dunia, Danilla sepertinya merujuk kepada keegoisan manusia sebagai makhluk yang naif dalam menebar derita bagi makhluk hidup lainnya yang tak dapat berbicara. Ditengahi oleh interlude yang jazzy, Danilla secara repetitif bernyanyi diatas build-up musik yang tiba tiba menghujam telinga kita dengan distorsi gitar yang akhirnya memberikan track ini kesan misterius.

BERAT Badan

Dibuka dengan musik ala opening game jadul, Danilla yang juga mengaku dirinya seorang gamer ini sepertinya bercerita soal standar berat badan yang makin kesini dirasa semakin tidak ada habisnya, dimana kata-kata “percaya dengan cantiknya diri sendiri” mulai membuat bingung diri kita sendiri untuk menentukan mana yang pas dan yang tidak pas walaupun ujungnya kita tahu bahwa tidak ada yang salah. Dengan alunan synth yang tunenya bergoyang ke segala arah membuat track ini cukup berat untuk dilupakan begitu saja.

“S E N J A” di Seberang Nusa   

Setelah 4 track sebelumnya, sepertinya track nomor 5 ini menjadi lagu yang dirasa paling dekat dengan early worksnya Danilla. Nyanyian dan drum ala bossa nova, akordeon, dan aksen dreamy merupakan formula klasik Danilla yang bisa menjadi obat rindu buat pendengar Danilla dari lama. Dengan penyampaian yang lagi-lagi sangat jujur dan tepat sasaran, lagu ini menjadi sangat remarkable ketika didengarkan.

KIW”

Funky dan groovy adalah dua kata yang menggambarkan track ke 6 dari Danilla ini. Pola drum yang menganggukkan kepala diberi topping synth yang repetitif dan bass yang berwarna sangat cocok dengan karakter suara Danilla yang hangat, dan dengan mudah menjadikan track ini sebagai track yang gampang untuk menyerang bawah sadar kita untuk ikut bersenandung mengikuti lagu ini. Such a dancey track.

Di Balik Selimut

Intensitas alunan musik cukup berbanding jauh dengan track sebelumnya, “Di Balik Selimut” diawali dengan pergerakan musikal yang sederhana, dimana kita secara jelas bisa merasakan kelelahan Danilla seperti didengar di lirik “Tengah malam yang tenang sudah mau tidur”. Ia merasa semua hal terasa mengganggu, namun tidak ketika di balik selimutnya ada yang menunggu untuk mengusiknya, yaitu kucingnya sendiri. Lalu, seketika alunan musik berubah menjadi kencang nan dramatis seakan akan menggambarkan Danilla, menunda ketenangannya demi bermain untuk terakhir kalinya sebelum kembali memejamkan mata, yang diisyaratkan dengan alunan musik yang kembali seperti di awal track, lalu track ditutup dengan meongan kucing yang manja.

Di Mana

Suara terompet di awal sudah mengisyaratkan bahwa lagu yang akan datang merupakan lagu yang memiliki aura sensual. Apalagi dibantu dengan voiceover yang diisi oleh Bobby Mandela dari BKR Brother, menambah kesan misterius dalam lagu yang jika ditelaah liriknya seperti curhatan Danilla yang ingin memiliki sepatu baru yang dipakai oleh sang lelaki. Sungguh sebuah kombinasi yang merepresentasikan album ini. Mysterious, Sensual yet so Funny.

Fel d 1 feat Teddy Adhitya

Kalau di track sebelumnya aura sensual hanya dirasakan secara musikal, kali ini secara lirikal dengan bantuan Teddy Adhitya, Danilla seakan akan kerasukan dengan betapa seriusnya keinginannya untuk tidur bersama *Untuk pikirannya kemana-mana, lagu ini adalah lagu soal tidur bersama kucing*. Sebuah track yang soulful dan benar benar membuat pendengar juga terengah-engah seperti disebutkan di bagian chorus menjadikan track ini sebagai track paling soothing dan sexy ditambah dengan susunan lirik di satu menit terakhir yang menggambarkan nafsu manusia dapat mengalahkan apapun itu bahkan alergi terhadap teman tidurnya, yang didalam konteks lagu ini teman tidurnya adalah kucing, hmm.

Dungu-dungu

Kembali dengan gitar akusitk, Danilla kembali dengan musik yang disusun sederhana tanpa dinamika yang begitu mengisi seperti di lagu-lagu sebelumnya. Tapi terkadang hal yang sederhana akan lebih baik. Kembali menggambarkan musik sesuai dengan liriknya, Danilla disini seakan bercerita bagaimana hal yang dungu-dungu akan lebih diminati daripada hal yang penuh dengan kesungguhan ntah apapun itu artinya. Lagu ini juga ditutup dengan beberapa kombinasi Bahasa asing yang bisa kalian lihat sendiri artinya di aplikasi penerjemah.

Dalam Nirvana

Another dancey track, Danilla kembali dengan nuansa city pop di track 11 ini. Menyadari bahwa ada dunia yang selalu didambakan, lagu ini juga seakan membawa kita ke dalam nirvana dengan persepsi masing-masing. Di chorus, Danilla mencoba menenggelamkan pendenganya, lalu seketika kembali mengangkat apa yang sudah dtenggelamkan untuk melihat realita yang ada. Setidaknya itu yang bisa ditelaah dari lagu yang kembali menjadi tempat Danilla bereksperimen dalam pergantian nuansa secara tiba-tiba dalam lagunya.

Maka Dari Itu

Layaknya penutup sebuah album, Danilla menjadikan track terakhir ini sebagai ruang untuk dijadikan epilog yang sangat berarti di album Pop Seblay ini. Dilihat dari penyampaian lirik yang seakan Danilla sendiri tidak ingin hilang harapan untuk menjadi sesorang yang tak tergantikan, dibalut oleh piano dan alunan strings yang dramatis membuat lagu ini menjadi penutup yang sangat indah dalam album penuh dengan curahan hati yang dinamis dalam delivery-nya. Apapun reaksi yang akan dirasakan oleh tiap orang dalam album ini, track terakhir ini akan menjadi sebaiknya rumah untuk kembali bagi penggemar agar merasakan hangat dan eratnya pelukan seorang Danilla Riyadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here