Kiss FM Medan – Borobudur Marathon adalah perayaan bagi pelari. Pada gelaran Bank Jateng Tilik Candi, lebih dari 4.000 pelari berpesta dalam semarak sambutan dan kehangatan warga di sekitar Borobudur.

Bank Jateng Tilik Candi merupakan kompetisi lari dengan jarak 21,097 kilometer atau setengah maraton. Tahun ini, ajang ini diikuti 4.552 pelari umum dari berbagai wilayah di Indonesia dengan sistem ballot

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melepas para pelari pukul 05.00 di Taman Lumbini, Borobudur, setelah seluruh peserta menyanyikan “Indonesia Raya” bersama-sama dengan dipimpin penyanyi Regina Ivanova. Ganjar sendiri lantas bergabung dengan para pelari untuk menuntaskan setengah maraton.

Pelari pertama yang berhasil mencapai garis finis adalah Khairullah dengan catatan waktu 1 jam 18 menit 2 detik. Berikutnya menyusul Irwandi Fokatea dengan 1 jam 19 menit 29 detik dan Wartono dengan 1 jam 20 menit 23 detik. Mereka menempati tiga podium kategori putra.

Sementara di kategori putri, Ai Kusniati berhasil menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 1 jam 30 menit 5 detik. Catatan waktu ini melampaui pemenang pertama Tilik Candi 2021, Chandra Dewi, yang menyelesaikan setengah maraton dalam waktu 1 jam 49 menit. 

“Saya menikmati berlari di Borobudur Marathon, rutenya menyenangkan dan steril dari kendaraan. Soal tanjakan atau turunan, saya sudah biasa karena saya berasal dari Pengalengan, daerah pegunungan, jadi tahu cara menyikapinya,” ujar Ai yang juga merasa disemangati dengan panduan sorak (cheering) di sepanjang rute.

Sebelumnya, Komite Borobudur Marathon yang terdiri atas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Jateng, Harian Kompas, dan Yayasan Borobudur Marathon menjanjikan tambahan hadiah Rp 27 juta bagi pemenang yang berhasil memecahkan rekor kecepatan pemenang Tilik Candi tahun lalu. Dengan begitu, Ai mendapatkan hadiah utama Tilik Candi Rp 15 juta, ditambah dengan bonus.

Sementara itu, pada podium kedua dan ketiga Tilik Candi putri berdiri Yulia yang mampu merampungkan setengah maratonnya dalam 1 jam 40 menit 54 detik dan Risa dengan catatan waktu 1 jam 42 menit 43 detik.

Kehangatan Warga

Yang begitu khas dari perhelatan Borobudur Marathon adalah keterlibatan warga yang aktif dalam menyambut para pelari. Pada rute Tilik Candi, peserta memang mulai berlari dari Taman Lumbini, lantas melewati sejumlah desa untuk kembali finis di Taman Lumbini.

Sepanjang rute, banyak warga berdiri di pinggir jalur berlari untuk meneriakkan kata-kata semangat. Ribuan anak-anak dan remaja yang datang dari beragam sekolah secara kreatif menampilkan panduan sorak untuk memeriahkan suasana dan mendorong pelari untuk dengan gembira mencapai finis.

“Semangat, Mas!” pekik Istiqomah (54) dari bangku yang sengaja diangkutnya ke pinggir jalan untuk menonton Tilik Candi. Pelari-pelari itu sedang melintasi desanya, Desa Ngroto. 

“Saya pernah dua kali ikut Borobudur Marathon waktu lomba ini diadakan awal-awal dulu, tahun 1990-an. Saya lari 10 kilometer dari Blondo ke Borobudur. Makanya sekarang juga saya senang sekali melihat para pelari ini,” Istiqomah bercerita.

Suasana meriah mewarnai rute, terutama karena adanya panduan sorak dari warga desa maupun sekolah-sekolah. Mereka menyanyi, menari, memainkan musik, dan mengenakan kostum-kostum bernapaskan adat daerah untuk menjaga energi para pelari.

Di salah satu titik misalnya, panggung kecil didirikan untuk pertunjukan kolintang dan bermacam dendang. Ini adalah persembahan dari SMPN 1 Kota Mungkid, Magelang.

“Untuk Borobudur Marathon ini, kami menyiapkan pertunjukan berupa orkestra kolintang dengan perpaduan gerak dan seni. Ada beberapa lagu daerah dan nasional yang dibawakan. Penampilnya 120 siswa yang diseleksi dari kelas 7 dan 8,” cerita Mohammad Yusup, Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Mungkid. Kelompok ini hanyalah salah satu dari puluhan penampil yang menyemarakkan Tilik Candi. 

Rayakan Budaya

Ketulusan dan kehangatan warga serta budaya yang ditampilkan untuk para pelari adalah cerminan nyata apa yang diungkapkan Gubernur Jawa Tengah dan Direktur Bank Jateng Supriyatno sebelumnya, bahwa Borobudur Marathon adalah ajang wisata olahraga. Selain menonjolkan pertandingan berlarinya itu sendiri, Borobudur Marathon selalu menjadi cara untuk merayakan kekayaan budaya lokal, baik lewat sambutan warganya maupun pengalaman lain yang ditawarkan Magelang.

Keseriusan untuk membangkitkan wisata olahraga juga tampak dari digelarnya Pasar Harmoni selama penyelenggaraan Borobudur Marathon 2022. Pasar Harmoni adalah bazar kuliner dan kriya khas Magelang dari kelompok Pawone, yang telah melalui proses kurasi dan pendampingan. Pada ajang Bank Jateng Tilik Candi, Pasar Harmoni yang terdiri atas 13 kuliner lokal dan 9 kriya hadir di Taman Lumbini.

Beragam kuliner yang bisa dinikmati, antara lain siomay beong, soto bebek, nasi telang, beragam olahan singkong, dan dawet ireng ketan hijau. Sementara itu, berbagai jenis kriya menarik juga ditawarkan, antara lain kerajinan kayu dan kulit telur, kerajinan kayu limbah, kerajinan kerang, wayang, batik, dan ecoprint.

Para pelaku usaha juga dengan antusias memperkenalkan produk-produk unggulannya. Rumah Singkong Borobudur misalnya, membawa produk gethuk cothot dan mendhut telo. Gethuk cothot adalah getuk berisi gula merah yang langsung lumer di mulut ketika getuk digigit. Sementara mendhut telo adalah olahan singkong dengan isian parutan kelapa dan gula merah, yang lantas dibungkus daun dan dikukus.

“Kami berharap dengan ikut Pawone ini kami bisa lebih dikenal, apalagi sekarang olahan pangan lokal sedang digencarkan,” ujar penggagas Rumah Singkong Borobudur Rini Wijayanti. 

Produk-produk Pasar Harmoni tampak disambut antusias pula oleh para pelari. Di sana-sini, gerai kecil masing-masing UMKM dikunjungi para pelari. Mereka menyantap kuliner lokal atau berbelanja produk kriya.

Hiburan lain yang tak disangka-sangka para pelari adalah tampilnya penyanyi kawakan Iwan Fals. Ia membawakan sejumlah lagu populer, antara lain “Aku Sayang Kamu”, “Bento”, dan “Kemesraan”. Para pelari yang telah menuntaskan setengah maraton berdiri di depan panggung sambil bernyanyi bersama.

Pada gelaran tahun ini, Borobudur Marathon 2022 bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah juga berinisiatif melakukan penanaman 5.000 pohon di daerah Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung. Bibit pohon damar secara simbolis diserahkan Gubernur Jawa Tengah kepada Iwan Fals. Langkah ini mencerminkan upaya Borobudur Marathon untuk menyebarkan semangat bagi Indonesia untuk bangkit, bertumbuh lebih sehat dan kuat. Di samping itu, hal ini juga menyatakan dukungan Borobudur Marathon untuk lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Beragam acara dan inisiatif yang dijalankan dalam Borobudur Marathon dirangkum Kompas lewat narasi #MenjadiLebihGayeng. Dalam bahasa Jawa, gayeng berarti rasa penuh semangat, kegembiraan, keberanian, dan keseruan. Sejumlah acara lain juga dilaksanakan serangkaian dengan Borobudur Marathon 2022, di antaranya Kumpul Komunitas, bazar buku murah dengan potongan harga hingga 50 persen di Bentara Budaya Yogyakarta pada 11–14 November 2022, dan Kompas Lounge di Plaza Ambarrukmo Yogyakarta pada 11–13 November 2022. Bersama Kompas, #MenjadiLebih.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here