Kiss FM Medan – Platform komunikasi populer, Discord, kembali jadi sorotan setelah mengumumkan kebijakan baru yang akan berlaku global mulai Maret 2026. Perusahaan berencana mewajibkan verifikasi usia melalui pemindaian wajah serta unggahan kartu identitas resmi bagi para penggunanya sesuai dengan yang diterapkan oleh CEO baru Discord.
Kebijakan ini langsung memicu gelombang protes besar dari komunitas. Mengapa? Salah satu pemicunya adalah insiden kebocoran data pada 2025, ketika sekitar 70.000 foto identitas pengguna dilaporkan terekspos melalui vendor pihak ketiga. Trauma terhadap kasus tersebut masih membekas, sehingga wajar jika rencana pengumpulan data biometrik baru dianggap sebagai risiko besar.
Di berbagai forum seperti Reddit, pengguna ramai menyerukan boikot, pembatalan langganan premium Nitro, hingga ancaman migrasi massal ke platform alternatif. Mereka menilai kebijakan ini sebagai pelanggaran privasi yang berlebihan dan bertentangan dengan budaya anonimitas yang selama ini menjadi ciri khas Discord.
Perubahan kepemimpinan juga ikut memperkeruh suasana. CEO baru Discord, Humam Sakhnini yang disebut memiliki latar belakang sebagai konsultan teknologi, dinilai sebagian komunitas lebih berorientasi pada kepentingan bisnis jangka panjang—termasuk potensi IPO—dibanding perlindungan data pengguna.
Secara resmi, kebijakan ini diklaim bertujuan meningkatkan keamanan dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi usia digital di berbagai negara. Namun bagi banyak pengguna, menyerahkan data wajah yang bersifat permanen dan tidak dapat diubah terasa seperti taruhan besar terhadap sistem yang pernah gagal menjaga data sensitif.
Kini, pertanyaannya bukan hanya soal keamanan, tetapi juga soal kepercayaan. Apakah Discord mampu meyakinkan penggunanya bahwa data biometrik mereka benar-benar aman? Atau justru keputusan ini akan menjadi titik balik yang mengubah wajah komunitasnya sendiri?










